Partai yang akan memenangkan pemilu 2009 menurut anda

Kamis, 22 November 2007

Yang Muda Dilarang Maju!

Perang Strategi
Meskipun Pemilu 2009 masih dua tahun lagi, persiapan elite politik menuju pemilu 2009 sudah digalakan. Elite politik sepertinya memanfaatkan betul waktu dua tahun yang tersisa sebagai ajang promosi pribadi mereka. Dengan dalih silaturahmi, kunjungan kenegaraan momen ini dimanfaatkan betul sebagai ajang promosi menuju pemilu 2009. Pertanyaanya sekarang, apakah masyarakat akan terpengaruh dengan aksi-aksi "sirkus" elite politik saat ini. Masyarakat indonesia sepertinya cukup cerdas untuk membaca gelagat "sirkus" elite politik Indonesia. Janji-janji yang diberikan atau pun sumbangan-sumbangan yang diberikan akan dianggap angin lalu saja. Jika melihat realita saat ini, rasa tidak percaya masyarakat kepada elite politik saat ini sudah membantu yang sulit untuk dicairkan. Elite politik harus cerdas dalam proses membangun opini publik, jangan lewat aksi-aksi sirkus yang sudah lazim digunakan.
Presiden Polling
Banyak survei yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintahan atau pun independen untuk memprediksi kemungkinan calon Presiden RI 2009-2014. Tentu saja kita pasti akan mempertanyakan esensi dari poling itu sendiri, polling yang bersifat prediktif tidak akan mencerminkan hasil yang sebenarnya. Dengan range waktu 2 tahun kedepan hasil polling yang dilakukan akan jauh berubah. Apakah kita akan memilih calon presiden beradasarkan hasil polling saja. Matilah bangsa ini kalau hanya memilih presiden berdasarkan tingkat popularitasnya. yang kita butuhkan saat ini bukan presiden yang populer. Bangsa ini butuh pemimpin yang cerdas mempunyai visi dan misi yang akurat untuk menyelesaikan permasalahan bangsa yang kiat rumit. Lantas siapa tokoh yang cocok untuk mengisi kursi presiden RI 2009-2014, jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Liat dengan hati nurani, track record perjalanannya, karakter presidennya, serta loyalitas pada negara bukan loyalitas pada partainya.
Alternatif Presiden
Mahkamah agung beberapa waktu yang lalu sempat mengumumkan UU yang menyatakan kemungkinan calon independen masuk dalam pemilu 2009, tentu saja ada pihak yang tidak senang dengan hasil ini. Partai-partai yang ada saat ini bisa kebakaran jenggot jika UU ini disyahkan. Mengingat UU ini memungkinkan adanya ancaman popularitas dan eksistensi partai itu sendiri. Mosi tidak percaya masyarakat yang begitu besar akan partai direpublik ini memungkinkan calon independen bisa memenangkan pemilu 2009. Apakah partai akan diam saja menyikapi wacana ini. jawabannya pasti tidak. Secara historis partai tidak bisa dilepaskan dari peran dan fungsinya. Sejak jaman kemerdekaan kita sudah mengenal sistem Demokrasi "dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat" yang kita percayakan kepada partai. Untuk saat ini makna Demokrasi sepertinya sudah bergeser ke "dari partai oleh partai dan untuk partai" orang-orang golongan tua yang bercokol dipartai mempunyai obsesi besar untuk dapat memimpin bangsa ini, meskipun rakyat Indonesia sudah mengetahui track record buruk mereka. Dalam sebuah diskusi yang dilaksanakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan Rabu 21 November 2007 dengan tema " Menuju pilpres 2009" ada sebuah wacana yang menarik untuk diperbincangkan. Bagaimana peluang calon independen untuk masuk dipemilu 2009, apakah sistem Demokrasi yang digunakan Indonesia masih ideal untuk saat ini, samapai pemaknaan arti Demokrasi itu sendiri. Dalam diskusi yang berlangsung kurang lebih dua satu jam tersebut menurut Agus Muso selaku pembicara menyatakan "peluang calon independen untuk masuk dipemilu 2009 tidak begitu besar, karena masih banyak partai yang di isi oleh orang-orang golongan tua masih berkeinginan besar memenangkan pemilu. kalau calon independ masuk dalam kancah pertarungan pemilu pasti golongan muda akan masuk didalamnya dan hal ini yang ditakutkan oleh orang-orang golongan tua. Lihat saja orang-orang muda yang ada dipartai saat ini seperti di PKB, PDI P susah untuk mengembangkan sayapnya karena otoritas golongan tua masih sangat kuat. Kalau golongan muda yang kecewa dengan sistem kepartaian maju dengan jalan independen ini berarti ancaman bagi golongan tua tentunya". Selain itu, dalam diskusi tersebut juga muncul pertanyaan dari salah seorang peserta kamal malmsteen "apa yang salah dengan sistem demokrasi di negeri ini, apakah kita harus merumuskan ulang untuk membahas apa sistem pemerintahan yang ideal untuk negeri ini". celoteh kencang pun terdengar dari peserta diskusi "pakai sistem komunis saja, atau kembali kesyariat islam biar rakyat ekonominya maju" ungkap taufik. Suut amdani selaku peserta menambahkan "saya jadi teringat penampilan ws rendra di STSI Solo, waktu itu beliau mengatakan Demokrasi itu adalah kedaulatan rakyat, meskipun hal ini sulit untuk dideskripsikan tapi setidaknya definisi itulah yang harus diaplikasikan untuk membangun kembali bangsa kita ini". Interpretasi daulat rakyat adalah "wakil rakyat" harus benar-benar dijadikan acuan dalam mengambil keputusan. MPR/DPR sudah seharusnya menyadari eksistensi mereka dipemerintahan. Suara rakyat harus diprioritaskan bukan suara partai ataupun golongan. Bangsa yang maju akan segera terwujud jika semua stakeholder mau menyadari akan pentingnya sebuah sistem Demokrasi yang berbasis kedaulatan rakyat yang sebenar-benarnya.

Selasa, 13 November 2007

Pabelan dalam Foto

Pemred Majalah"aGUNG/Style serius dan lugu"

Pemred Koran
'Didik/Stress Berat...."

Pemred Tabloid
"Andy al Bantani/Relaksasi"

Pimpinan LITBANG


"Tarmiyanti/Stay Focus"



Belajar Jurnalistik/Repro


Teknik Pengolahan Data

Menjadi pembicara pada Latihan Ketrampilan Penerbitan Kampus Mahasiswa (LKPKM) se-Indonesia bukan yang pertamakali buat saya. Pada LKPKM tingkat dasar di UGM Yogyakarta saya sudah menjadi pembicara. Namun, saya tak tahu pasti, apakah pesertanya sama, atau sebagian sama. Atau adakah yang di Denpasar sekarang ini (tingkat pembina) adalah kelanjutan dari Yogya (tingkat dasar) dan Padang (untuk tingkat lanjutan).

Tentang materi yang saya bawakan ini, Teknik Pengolahan Data, memang baru pertama kali untuk pers kampus. Sebelumnya saya berbicara materi yang lain. Walau begitu, saya sempat membaca makalah tentang Teknih Pengolahan Data pada tingkat-tingkat sebelumnya. Saya melihat di sana masih bergulat pada persoalan teori dan tidak menukik pada permasalahannya. Mudah-mudahan kali ini saya sempat memberikan yang tidak sekadar teori, tetapi juga contoh-contoh sehingga bisa dipraktekkan. Saya pikir, pada tingkat pembina ini persoalan yang langsung pada permasalahan akan makin diperlukan.

Mengumpulkan Data
Sebelum mengolah data, tentu harus diketahui dulu bagaimana teknik mengumpulkan d
ata. Ada tiga hal penting tentang cara mengumpulkan data untuk kepentingan penerbitan pers atau tugas-tugas jurnalistik. Yakni: reportase, wawancara dan riset kepustakaan. Saya tak ingin menjelaskan hal ini berpanjang-panjang, karena materi ini tentu sudah didapatkan dari orang lain. Misalnya bagaimana teknik reportase ke lapangan, bagaimana melakukan investigasi, dan sebagainya. Wawancara juga demikian ada teknik-teknik khusus yang harus dilakukan seseorang. Sejak mempersiapkan materi wawancara, mengetahui lebih banyak yang akan diwawancarai, melemparkan pertanyaan pemancing, bagaimana bertanya supaya yang diwawancarai tidak merasa diinterograsi, dan sebagainya. Semua ini tentu sudah diperoleh.

Adapun tentang riset kepustakaan, ini memang tidak memerlukan teknik khusus. Dan saudara-saudara yang selama ini sudah duduk di bangku universitas tentu tak asing dengan soal ini. Dalam membuat paper, makalah, dan nantinya skripsi, hal-hal seperti ini sudah pasti dilakukan. Dan itu sama saja untuk kepentingan jurnalistik.

Bagaimana kita membongkar-bongkar buku untuk mencari data yang akan menunjang tulisan kita. Atau memilah-milah klipping koran, atau menyimak brosur-brosur. Semua ini tak kalah pentingnya dengan pekerjaan wawancara atau reportase. Di penerbitan-penerbitan besar seperti TEMPO, Kompas dan lain-lainnya, tenaga seperti ini yang dinamai periset statusnya sama dengan wartawan. Karena mereka harus punya kejelian yang sama dengan wartawan. Bahkan mungkin lebih karena mereka umumnya lebih banyak membaca buku dan mengingat peristiwa-peristiwa -- walau itu tak mutlak karena sekarang pendataan klipping, file, brosur, indeks atau katalog buku sudah didukung peralatan komputer yang canggih.

Setelah Data Terkumpul
Nah, setelah semua data terkumpul, sebenarnya sudah dimulai teknik mengolahnya. Tapi, bagaimana mengolahnya jika data itu sedemikian banyak? Sering penulis pemula merasa bingung bagaimana memperlakukan data. Wartawan muda suka mengeluh: ''Aduh, banyak sekali bahannya, bagaimana menulisnya, ya, bingung.''Jangan bingung. Periksa dulu rencana awal (kalau Anda reporter biasanya ada lembar penugasan). Pada perencanaan awal itu tentu sudah ditentukan, data yang Anda cari itu untuk rubrik apa, fokus ceritanya apa, lalu angle (sudut pandangnya) ke mana. Lalu cocokkan dengan data yang Anda peroleh. Apakah sudah terkumpulkan semuanya? Kalau belum, cari yang kurang. Kalau pas, siap-siaplah ditulis. Sering yang terjadi adalah kelebihan data. Belanjaan terlalu banyak, istilah di pers. Sepanjang ''belanjaan yang banyak'' itu tidak mengubah fokus dan angle bukanlah persoalan. Tetapi sering ''belanjaan'' yang dibawa melenceng dari perenca naan awal. Apa yang terjadi di lapangan tidak cocok seperti yang diperkirakan di kantor. Apa yang dihasilkan dari reportase dan wawancara tidak tepat seperti yang direncanakan sebelumnya. Maka, yang terlebih dahulu ditentukan sebelum data diolah adalah apakah sudut pandang dan fokus diubah, dan dengan perubahan itu tetapkah tulisan itu menarik? Kalau ya, lakukan perubahan dulu. Artinya, data yang terkumpul itu mengubah perencanaan awal, dan buatlah rencana tulisan yang baru sesuai dengan data yang ada. Kalau itu juga mengubah rubrik, tidak apa-apa, sepanjang memenuhi kriteria rubrik. Di TEMPO misalnya, sering dalam perencanaan awal untuk rubrik Kriminalitas tiba-tiba data yang ada melenceng. Karena menarik lalu diubah jadi rubrik Hukum, atau Nasional. (Setiap rubrik tentu memiliki kriteria-kriteria tertentu yang berbeda, dan ini adalah kesepakatan pengelola redaksi penerbitan itu).Tetapi, kalau data yang terkumpul itu melenceng dan tidak memenuhi standar untuk rubik apapun, juga tidak mempunya sudut pandang baru dan fokus yang bagus, maka itu berarti gagal. Simpan saja data itu untuk lain kali, tak ada gunanya dipaksakan.

Mengolah Data
Setelah ditentukan angle baru atau data itu memang pas dengan perencanaan, langkah selanjutnya adalah menyiangi data. Mana yang relevan untuk tulisan yang akan digarap dan mana yang tidak. Jangan segan-segan membuang data yang tidak perlu, walau tadinya dicari dengan penuh gesit dan susah payah.Dalam proses menyiangi ini akan terlihat apakah reportase dilengkapi dengan wawancara khusus yang merupakan bagian tersendiri, atau wawancara itu dimasukkan dalam bagian reportase, artinya menyatu dengan tulisan induk. Juga terlihat, apakah tulisan itu perlu didukung oleh grafik atau tabel untuk lebih menjelaskan pada pembaca. Ini mempengaruhi cara Anda menulis berita itu. Dalam menulis (saya tak menguraikan teknik menulis berita karena itu sudah ada bagiannya) sekali lagi harus diingat: jangan segan-segan membuang data yang tidak perlu. Juga harus diingat, trend penulisan sekarang ini -- baik untuk berita maupun feature -- teknik penyajiannya sedemikian rupa sehingga orang membacanya dengan enteng dan tidak susah. Alurnya terpelihara. Orang sekarang ini semakin sibuk dan informasi sedemikian banyaknya, sehingga dalam mencari informasi itu orang tak mau memikirkan hal-hal yang tak perlu. Karena itu, dalam sebuah berita pasti ada ''pelaku utama'' dan ''pemain figuran''. Jangan sekali-sekali memberi porsi yang besar kepada ''pemain figuran'' sehingga menenggelamkan ''pemain utama''.

Misal: Ada sekelompok petani melakukan protes karena tanahnya digusur. Pemimpin kelompok itu dan aktifis-aktifis lainnya adalah pelaku utama. Sedang figurannya adalah puluhan petani yang lain. Kita tak perlu harus menyebut seluruh petani yang protes, cukup pemimpinnya saja, atau pendampingnya yang vokal saja. Sedangkan puluhan lainnya cukup disebut jumlahnya, asalnya. Tidak perlu deskripsi lengkap: nama-nama mereka, usianya, deskripsi tubuhnya dan sebagainya. Tapi pemimpinnya perlu: usianya, pendidikannya, caranya bicara dan sebagainya.Ini juga termasuk pelaku yang lebih penting. Sebagai contoh, delapan anggota kongres AS berkunjung ke Indonesia. Karena mereka dari satu partai yang sama dan delegasi ini merupakan satu kesatuan, maka yang disebut cukup pemimpinnya saja. Apalagi yang lain tidak ngomong. Untuk apa menyebutkan data-data yang lain, selain susah mengeja namanya, apa relevansinya untuk pembaca kebanyakan?Pergunakan data sesuai dengan kebutuhan berita itu. Misalnya soal-soal detail. Tak semua detail itu penting. Misalnya menyebutkan jarak terbunuhnya perampok di tangan polisi. Apa gunanya menulis berita begini: ''Perampok itu ditembak polisi pada jarak 5, 74 meter.'' Pembaca malah bisa keliru kalau membacanya cepat-cepat, lima meter atau tujuh meter atau empat meter. Sebut saja angka bulat, misalnya, kurang dari enam meter atau sekitar enam meter -- walau Anda betul-betul mengukurnya secara tepat dengan sangat susah.Tetapi untuk hal tertentu, detail penting. Misalnya, pertandingan sepakbola. ''Gol terjadi pada menit ke 43''. Ini tak bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah setengah main. Menit ke 43 sangat penting artinya dibandingkan menit ke 30, misalnya. Atau tulisan begini: ''Pelari itu mencapai finish dengan waktu 10.51 detik.'' Ini penting sekali bagi pembaca. Mereka akan marah kalau detail itu ternyata salah. Apakah pembaca bingung melihat angka-angka ini? Tidak, karena sebelum mereka membaca berita itu, mereka sudah punya persiapan rubrik apa yang dibacanya. Kalau rubrik itu Nasional (di majalah) atau berita utama di koran tertulis seperti ini: ''Selesai berdemonstrasi menentang SDSB, Polan pulang ke rumahnya. Baru 15 menit, 12 detik, 6 second ia di rumah, polisi dengan kekuatan 12 orang datang menciduknya. Nama-nama polisi itu Erwin Siregar usia 26 tahun pangkat Serka, Ida Bagus Rai usia 35 tahun pangkat Letda, Muhamad Jarnawi usia 28 tahun pangkat serma asal Purwodadi.....'' Ya, capek membaca kan? Untuk apa? Pelaku utamanya Polan, yang lain figuran semua. Figuran terpenting di sini hanya komandan polisi yang menangkapnya. Bahan-bahan seperti itu yang Anda dapatkan dari laporan polisi (biasanya keterangan pers) tidak usah dipakai semua.

Sebar Data, Kalau Penting
Ada kalanya data itu penting semua. Apalagi ini menyangkut deskripsi seorang tokoh yang mau ditonjolkan, misalnya. Kalau itu memang diperlukan, jangan memperlakukan data itu semaunya, ditumpahkan dalam satu kalimat. Akan lebih baik kalau data itu disebar dalam beberapa kalimat. Jangan dijubelkan.Contoh. Ada seorang pelukis lumpuh bernama Ketut Rinuh. Ia menda pat penghargaan pemerintah karena karyanya sangat bagus, tak kalah hebat dengan pelukis yang normal. Anda sudah melakukan reportase di rumah Ketut Rinuh dan sudah mendapatkan data-data yang banyak sekali. Lalu Anda menulis beritanya begini: ''Ketut Rinuh, pelukis lumpuh sejak kecil dari Desa Kesiman, umurnya 50 tahun, anaknya sembilan, istrinya guru TK, dan ia sudah berhasil menyekolahkan anaknya sampai menjadi insinyur, mendapat penghargaan dari pemerintah karena karyanya dinilai sangat bagus, melebihi karya-karya pelukis normal lainnya.''

Kalimat saya ini sebenarnya sudah bagus karena meletakkan koma dengan benar. Kalau meletakkan koma ceroboh dan sama sekali diabaikan, pembaca bisa bingung. Jangan-jangan yang dimaksudkan ''ia'' itu istri Rinuh, jangan-jangan yang dimaksudkan mendapat penghargaan itu anaknya yang insinyur.Tapi, sebagus-bagusnya kalimat seperti yang saya buat tentu tetap capek membacanya. Dan itu bukan bahasa jurnalistik, apalagi jurnalistik model sekarang ini yang sering disebut sebagai jurna listik baru. Anda haru memecah-mecah data yang mendukung Ketut Rinuh itu. Misalnya:Pada kalimat pertama Anda cukup tulis: Ketut Rinuh, 50 tahun, mendapat penghargaan dari pemerintah. Kemudian dilanjutkan dengan kapan penghargaan itu diberikan, dalam rangka apa, siapa yang memberikan. Lantas, tentang siapa Ketut Rinuh dilanjutkan lagi dengan menulis: Pelukis lumpuh dari Desa Kesiman itu begitu terharu menerima penghargaan itu. Kemudian dilukiskan suasana pada saat upacara itu berlangsung. Mungkin, supaya berita tidak datar, Anda membutuhkan kutipan. Di situpun Anda bisa mendomplengkan data. Misalnya: ''Saya tak pernah mimpi mendapatkan penghargaan ini,'' kata Ketut Rinuh, lelaki yang lumpuh sejak kecil itu. Lalu Anda kembali melakukan reportase. Misalnya Anda menulis: Saat menerima penghargaan itu Ketut Rinuh tidak didampingi istrinya karena lagi mengajar di sebuah TK. Namun, ayah sembilan anak ini tampak begitu bahagia.

Out-line Perlu
Membuat out-line sangat perlu agar menggampangkan Anda mengolah data. Apalagi kalau berita yang Anda rancang itu berita panjang atau sejenis laporan utama. Apalagi kalau wartawan yang dilibatkan dalam pemberitaan ini tidak satu orang, tetapi banyak. Banyak data yang akan masuk, banyak informasi yang datang. Out line akan membantu karena ia mengatur lalu-lintas informasi, membagi permasalahan. Dalam menuliskan berita Anda tinggal mengikuti out line itu.

Misalnya, Anda mau menulis masalah perpakiran di kota ini. Ada peg baru (kejadian hangat yang membuat berita itu layak diangkat) yakni: urusan parkir akan ditenderkan oleh Walikota. Nah, sebagai seorang redaktur yang menangani proyek tulisan ini, Anda tentu menyebar banyak wartawan. Ada yang mewawancarai tukang parkir, ada ke wali kota, ada yang mewawancarai pengusaha yang berminat ikut tender, ada yang ke polisi, ada yang mewawancarai tokoh masyarakat atau orang biasa. Bahan yang masuk tentu banyak sekali, sementara jatah halaman yang tersedia terbatas. Maka out line sangat membantu mengatasi masalah ini. Misalnya, Anda merancang kan begini:

Bagian pertama tentu saja yang paling aktual (atau peg news) yakni menyangkut rencana tender parkir. Berapa besar tender, bagaimana minat pengusaha, target pendapatan kotamadya dari perparkiran, bagaimana perbandingan dengan tahun lalu ketika parkir tak diborongkan.

Bagian kedua: menyangkut kebijaksanaan perparkiran. Misalnya disorot masalah hukumnya. Apakah seluruh wilayah kotamadya itu menjadi taman parkir? Kalau tidak kenapa di depan apotek ini ada parkir, di depan nasi guling di sebelahnya tidak ada? Kenapa ada parkir di trotoar, peraturan mana yang membolehkan? Kenapa tukang parkir saling bersaing, apakah mereka yang menyetor sesuai target? Adakah kemungkinan penyelewengan, karcis tak dirobek, lalu dipakai berulang-ulang. Kalau begitu siapa yang rugi, pengusaha atau kotamadya?

Bagian ketiga: tanggapan dan pendapat masyarakat. Pemakai jalan, polisi, tukang parkir itu sendiri. Kalau tiga bagian ini masih kurang, mungkin perlu ada wawancara khusus yang menjadi bagian tersendiri atau tulisan (opini) berupa kolom dari seorang pakar. Misalnya, mereka menyoroti apa beda parkir dan penitipan motor. Kalau motor hilang, apakah tukang parkir bisa dituntut. Apakah tukang parkir itu bertanggung-jawab terhadap keamanan mobil atau motor atau mereka hanya menyediakan tempat dan untuk itu kita membayar.Nah, kalau _out-line_ itu sudah jelas, Anda tak akan lari ke mana-mana kalau sudah menulis. Tanpa kejelasan itu, Anda bisa melebar ke mana-mana. Persoalan A belum selesai, Anda sudah menulis persoalan C. Kemudian ingat lagi masalah A, ditulis lagi. Tulisan jadi tak runtut. Akan terjadi pengulangan-pengulangan.Demikian sesuatu yang bisa saya berikan semoga ada manfaatkan untuk Saudara-saudara.

Denpasar, 1998

Putu Setia

Senin, 12 November 2007

Kembalikan Media Kejalannya

"Eh tau ga sich loch...si Ardi tuh sekarang keliatan gaul banget...dengan potongan barunya ga ya spike, ditambah pakean yang model distro abis. wah ga nyangka gw si Ardi bisa seganteng itu." Itulah sekilas skenario yang disampaikan oleh anak SMP yang sedang bermain sinetron. Tidak bisa dipungkiri lagi kondisi media saat ini sudah jauh melenceng dari esensi media yang sebenarnya. Fungsi-fungsi media seperti advokasi, edukasi, informasi dimodifikasi ekstrim menjadi style kapitalisme. Kondisi ril yang terjadi saat ini, Media bukanlah sebagai wadah membangun bangsa kearah yang lebih baik, tapi Media sudah menjadi komoditas kapitalis yang tidak bisa berubah karena ada kepentingan uang disana. Mungkin kita sudah jenuh melihat adegan-adegan yang ada disinetron yang ada, hampir semuanya membawa sebuah pesan-pesan destruktif bagi pemirsanya. Kalau segmentasi yang mereka bidik sesuai dengan karakter sinetron yang mereka buat, mungkin tidak akan menjadi masalah. Tapi, kalau segmentasi yang mereka bidik berdistorsi kelain arah, inilah yang berbahaya. Lantas bagaimana kita melihat eksistensi media saat ini.
Overlapping Media
Media yang kebablasan sekarang ini, nyaman-nyaman saja menjalankan aksi mereka. Dengan menutup mata dan telinga mereka sudah cukup untuk mengcover gempuran para aktivis yang menyerukan untuk segera diadakan reformasi media. Tentu saja tidak semudah membalikan telapak tangan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Pemerintahan yang mandul, oknum-oknum kapitalis yang semakin kuat bertengger dengan pengaruhnya, membuat persoalan ini semakin sulit untuk diatasi dengan kata lain kita hanya menunggu negara ini hancur oleh senjatanya sendiri ya, itulah media. Kalau pemerintah bisa mengcover media berjalan sesuai esensinya, media bisa dijadikan sebagai senjata ampuh tentunya baik untuk memperkuat rasa nasionalisme, proses pembelajaran politik, dan lain sebagainya.
Masih segar di ingatan kita beberapa kasus yang terjadi dibeberapa media. Kasus smack down di LATIVI yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Persoalan ini terjadi karena kesalahan pihak lativi yang terlalu dini menyiarkan acara ini. sehingga anak-anak yang masih labil pemikirannya ikut-ikutan mempraktekan adegan ini. Walhasil beberapa nyawa melayang, cacat fisik sampai ribut antara orang tua karena masalah ini. Apakah pemerintah dengan lembaga sensor indonesia (LSI) tidak bisa berbuat banyak untuk menyikapi permasalahan ini. selain adegan smack down, ada point penting yang harus menjadi perhatian kita. Sinetron yang tidak mendidik adalah bom waktu bagi generasi muda saat ini. bayangkan saja ada dalam sebuah cuplikan sintron anak SD yang belagak sok gaul, menenteng HP ngomongnya lU, Gw. kerjaannya ngegosip bahkan sampai mempraktekan adegan pacaran diantara mereka. Sungguh miris ditengah kondisi bangsa semakin terpuruk, generasi muda kita malah disuguhi tontonan yang tidak sepantasnya mereka konsumsi.
Maksimalkan peran orangtua
Kalau pihak media dan pemerintah tidak perduli menyikapi permasalahan ini, hanya peran orangtua lah menjadi benteng terakhir. Orangtua harusnya bisa bijak memilihkan acara yang tepat untuk anak-anak mereka. Fungsi kontrol yang ketat memang harus diterapkan jangan pernah membiarkan anak anda untuk menyaksikan acara-acara TV sendirian tanpa bimbingan anda. Proteksi anak anda sedini mungkin adalah cara terbaik untuk menyikapi permasalah ini. luangkan waktu untuk anak dan beri mereka perhatian lebih.

Kamis, 08 November 2007

Budi Kecil Mau Kemana ?


"ini budi, ini bapak budi, dan ini ibu budi"...ketika mendengar kata tersebut, memori di otak akan menuntun kita saat mulai belajar membaca di Sekolah Dasar. Saat ini, untuk bisa belajar membaca seperti itu,tidak harus menunggu umur kita genap 6 tahun sebagai syarat masuk Sekolah Dasar. sebelum umur kita genap 6 tahun pun kita sudah bisa mempelajarinya lewar Taman Kanak-Kanak (TK). Sepertinya, sudah tidak ada alasan lagi ada data yang menyebutkan bahwa bangsa indonesia dikategorikan kedalam bangsa yang masih buta huruf. Menurut hasil penelitian Programme For International Student Assesment (PISA)2003, dari 40 negara , Indonesia berada pada tingkat terbawah dalam kemampuan membacanya. Kemampuan anak Indonesia usia 14-15 baru pada tingkat satu.Artinya hanya mampu memahami satau atau beberapa informasi pada teks yang tersedia.(republika, 09/11/2007
Membaca data ini, membuat hati menjadi miris dan prihatin. Ditengah berdiri kokohnya gedung-gedung pencakar langit, jumlah kendaraan bermotor yang semakin tak terkendali, pabrik berskala besar yang saling memandang angkuh satu sama lain, ternyata masih kita temukan data seperti ini. Lantas dimana peran pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini.

Kepala Subdirektorat Kesetaraan Pendidikan Menengah Depdiknas Elih Sudiapermana mengatakan, saat ini masih ada sekitar 15,6 juta dari total sekitar 217 juta penduduk Indonesia yang masih buta huruf. "Dari 15,6 juta itu, sekitar 70 persennya adalah perempuan," ujar Elih (Kompas, 25/8/2007. Dari sekitar 15,3 juta penduduk buta huruf di Indonesia, sekitar 12 persennya terdapat di Jawa Barat. Provinsi ini berada di peringkat ketiga terbanyak setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dari data tambahan ini bisa dilihat bahwa provinsi-provinsi besar seperti Jawa Barat, Jawa Timur, jawa tengah dan Jawa Timur ternyata masih acuh tak acuh tentang pentingnya dunia pendidikan bagi masa depan bangsa. Bisa kita lihat Jawa Barat dengan Bandungnya, Jawa Tengah dengan Semarangnya dan Jawa Timur dengan Surabayanya adalah kota-kota besar dimana bebagai macam infrastruktur telah dibangun seperti fasilitas publik, jalan raya, rumah sakit bahkan gedung-gedung sekolah masuk didalamnya meskipun proporsinya masih keci. Sebagai contoh bisa dilihat Jawa Tenga yang menargetkan pendapatan asli daerah sebesar Rp. 5,014 triliun pada APBD 2008. Rp 2,2 triliunnya digunakan untuk belanja daerah dengan alokasi pendanaan terbesar masih disektor infrastruktur. Lantas kita menjadi bertanya-tanya,apakah pemerintah tidak pernah membaca koran atau pun mendengarkan berita yang menyebutkan provinsinya dikategorikan sebagai salah satu provinsi dengan tingkat buta huruf yang tinggi.Atau memang mereka tidak perduli. Dengan semakin baiknya infrastruktur, masyarakat akan menilai kalau kinerjanya sudah dikatakan berhasil dan lagi-lagi ini motif oknum pejabat kita yang lebih suka memamerkan keberhasilan fisik saja.

Solusi Kongkret

Harga mati anggaran sebesar 20% untuk pendidikan yang diambil dari dana APBN & APBD adalah jawabannya. Selama ini bangsa kita selalu terlena dengan kemegahan. Infrastruktur bagus, jalan tol disana-sini, alat-alat perang canggih meskipun harus barter dengan beras atau kelapa sawit.Tapi mereka lupa akan satu hal yang lebih penting dari semua itu yakni pendidikan. Tampaknya bangsa kita memang bangsa yang ingin "menor" secara visual saja.Hal ini bisa kita lihat dengan dalih agar banyak investor asing masuk maka kita harus banyak melakukan perubahan.Padahal semua itu bullshit. Oknum pejabat kita yang sudah dicap sebagai pengkhianat amanat bangsa dengan berbagai tindakan amoril mereka seperti KKN dan sebagainya sudah cukup membuat bangsa kita hancur.Coba kembali berpikir realistis. kalau kita hanya menjadi sapi perah bangsa asing, tanpa bisa menjadi pengusaha sapi lantas mau dibawa kemana bangsa kita ini. Bergerak memajukan bangsa dengan dunia pendidikan akan lebih arif daripada kita hanya mementingkan infrastruktur semata. "Rajin menabung pangkal pandai, serius mengelola dunia pendidikan bangsa akan kembali maju dan bisa menguasai dunia"....


Rabu, 07 November 2007

Ideologi Persma

STOP PRESS

Pers Mahasiswa bukanlah sama dengan pers umum yang mencover berita-berita yang bersifat informatif saja, namun pers mahasiswa diharapkan mampu mengkaji permasalahan sosial yang diberitakan dengan analisis keilmuan dan kemasyarakatan secara kritis akademis serta obyektif. Pers Mahasiswa harus berani memberitakan fakta yang benar dan jujur kepada masyarakat dengan tidak meninggalkan kandungan nilai-nilai humanitas yang harus tetap dipegangnya.

Selasa, 06 November 2007

TKI Untuk Devisa Negara


Permasalahan bangsa indonesia yang tidak pernah bisa bangkit dari keterpurukannya selama ini, ternyata disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya budaya korupsi yang masih menggila dinegeri ini,pemberdayaan sumber daya alam yang belum maksimal, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang lebih menguntungkan pihak pemodal asing lewat berbagai kebijakan PMA dan lain sebagainya.
Kalau k
ita cermati betul,apa yang bisa kita jual dari bangsa ini. Secara umum orang akan berbicara bahwa Indonesia merupkan negara agraris, ditambah dengan kekayaan laut serta dari sektor pertambangan yang begitu besar.Begitu banyaknya sumber daya alam yang kita miliki, sudah sepantasnya negara kita berada sejajar denga Amerika Serikat ataupun Jepang, kalau kekayaan alam yang kita miliki bisa dikelola dengan baik.
Setelah 62 tahun meredeka, ternyata bangsa ini hanya "berjalan santai" tidak ada niatan untuk bisa berlari cepat menyusul bangsa-bangsa lain yang semakin maju.Masih segar di Ingatan kita, ketika negara-negara tetangga kita seperti Malaysia, Thailand ataupun singapura kondisi perekonomiannya lebih buruk dari negara kita. Dengan berbagai kebijkan yang dibangun dinegara-negara tetangga kita, akhirnya mereka bisa bangkit berlari meninggalkan Indonesia dibelakang.

Lantas kita akan bertanya dimana letak kesalahan bangsa kita? banyak argumentasi yang menyebutkan kesalahan dalam sistem pemerintahanlah yang menyebabkan kita masih berada dalam kondisi seperti ini, Budaya KKN yang masih sulit untuk diberangus dari negeri ini meskipun tampuk kepemimpinan sudah berganti sebanyak lima kali tampaknya menjadi faktor utama.Silahkan anda berfikir sendiri kenapa disemua era kepemimpinan presiden kita tidak ada yang bisa menuntaskan masalah pelik ini.

Andalkan TKI

Pengamat politik ataupun ekonom mungkin sudah jenuh menganalisa nasib bangsa ini, analisis mereka hanya menjadi sebuah wacana yang hilang ditiup angin. Sulitnya membongkar oknum-oknum pemerintahan yang tidak bertanggung jawab berada dibalik keterpurukan bangsa ini membuat negara kita semakin bingung,lantas apa yang akan kita lakukan. Pernahkan anda mendengar kata Tenaga Kerja Indonesia (TKI), kalau pada tanggal 10 november kita akan memperingati hari pahlawan,tampaknya sudah waktunya tanggal 10 november pula kita akan memperingati hari TKI.Eksistensi TKI tidak bisa dianggap sebelah mata,meskipun TKI notabene adalah tenaga kerja informal tapi dengan pemasukan devisa yang diperoleh bisa melampaui pemasukan devisa dari Migas dan hasil laut. Mendengar data fantastis ini sepertinya sudah saatnya bangsa ini merumuskan apa yang menjadi prioritas pemasukan devisa negara. Kalau kita melihat negara-negara berkembang seperti Jepang yang maju dengan Teknologinya dibidang otomotif, ataupun China yang maju dengan penguasaan teknologi hardwarenya.lantas bagaimana jika indonesia bisa maju dengan peranan TKI nya.
Konsep TKI menjadi pemasok utama Devisa Negara sebenarnya harus digalakan. Harus kita sadari SDM bangsa ini tidak bisa disejajarkan dengan SDM Jepang dan China dalam penguasaan Teknologi.Oleh karena itu sudah saatnya kita berpikir realistis apa yang bisa kita jual dari bangsa ini. "Kalau sudah banyak yang jualan gor
engan, kita jangan jualan gorengan juga, kalau kita tidak tahu cara berbisnis gorenganyang baik, just be your self" analogi tersebut seharusnya bisa kita adopsi. Jikalau bangsa lain sibuk dengan pengembangan teknloginya, sebaiknya kita juga sibuk dengan pengembangan TKI. Karena negara-negara di Dunia membutukan banyak tenaga kerja informal untuk mengembangkan perusahaan mereka.Dengan jumlah penduduk indonesia yang kurang lebih 210 juta, jika 10% atau sekitar 21 juta orang dialokasikan sebagai TKI yang tersebar diseluruh dunia. bisa dibanyangka berapa devisa yang bisa negara dapat. Jadi bangsa yang realistis akan lebih baik apabila ingin menjadi bangsa yang ambisius tapi tidak mempunyai kemampuan.
Optimalkan TKI, APBN meningkat ekonomi membaik, maka setelah itu apapun yang bangsa kita inginkan baik dalam hal pengembangan teknologi atau apapun akan bisa tercapai.

Sabtu, 03 November 2007

Anggaran Pendidikan 20% Harga Mati


Gaung sumpah pemuda yang dicetuskan pada tanggal 28 oktober 1928, ternyata masih berdistorsi sampai saat ini. Distorsi yang di rasakan mungkin tidak sehebat waktu dulu ketika semua pemuda berikrar untuk menyatukan persepsi mereka bahwa pemuda indonesia adalah berbahasa, berbangsa dan bertanah air satu yakni Indonesia. Sebuah kekuatan yang luar biasa besarnya ketika ikrar mereka menjadi awal perintis kemerdekaan di Indonesia,meskipun pada akhirnya kita bisa merdeka pada tahun 1945 tapi sejarah lahirnya sumpah pemuda tidak bisa dianggap kecil kontribusinya.
Bebicara tentang pemuda saat ini, tampaknya memang tidak seideal pemuda waktu dulu.Walaupun berada ditengah kondisi bangsa yang sedang dalam status peperangan,tapi para pemuda waktu dulu masih bisa untuk tetap berkreasi demi bangsa dan negara yang mereka cintai. Lantas bagaimana dengan kondisi pemuda saat ini.Ditengah fleksibilitas pergerakan pemuda saat ini ternyata gaung ikrar sumpah pemuda tidak menjadi sebuah semangat untuk membangun bangsa ini menuju kearah yang lebih baik lagi.Pemuda saat ini begitu gampang menerima gempuran budaya barat dengan berbagai macam trik yang mereka bawa.Kondisi ini menjadi semakin parah denga berbagai macam kebijakan pemerintah yang tidak selektif dalam menerima budaya barat yang bisa dibilang tidak ideal dengan budaya kita. Budaya permisif bangsa indonesia memang sudah dikenal oleh bangsa barat sebagai celah untuk memulai langkah intervensi mereka untuk masuk merusak generasi muda. Bung karno pernah berkata "berikan aku sepuluh pemuda, untuk mengguncangkan dunia" tampaknya ucapan Bung Karno ini disadari betul oleh bangsa barat,kalau generasi muda bangsa indonesia semakin berkembang tentu saja mereka akan sulit untuk melakukan intervensi. seiiring berjalannya waktu pemerintahan selama 62 tahun, ternyata sedikit demi sedikit bangsa barat pun mulai menancapkan kaki mereka dengan berbagai lobi politik.
Masih segar diingatan kita ketika era soeharto. Sebuah rezim pemerintahan yang dibangun sangat otoriter. Hampir tidak ada pergerakan pemuda yang bisa mengkritisi kepemimpinan Soeharto.Bahkan soeharto membuat kebijakan normalisasi kehidupan kampus (NKK) dimana kebijakan ini membuat semua organisasi mahasiswa dilarang.Begitu kuatnya otoritas soeharto membuat pemuda tidak bisa berbuat banyak pada waktu itu.Bahkan diawal kepemimpinannya bangsa indonesia tercatat sebagai negara termiskin ketiga di dunia setelah didua negara di Afrika, salah satunya adalah Botswana.Seiiring perkembangan zaman akhirnya rezim Soeharto pun tumbang di era reformasi pada tahun 1998. akibatnya tahun 1998 bangsa Indonesia mengalami krisi moneter yang begitu hebat, ekonomi melemah, harga-harga kebutuhan pokok meningkat sampai bahan bakar minya (BBM) pun ikut melonjak. butuh waktu recovery puluhan tahun untuk bisa membangun bangsa ini kembali berjaya.

Peran Elite Politik Pasca Soeharto
Tumbangnya rezim pemerintahan Soeharto tidak terlalu banyak membawa perubahan. Dimana elite politik yang bermain untuk membangun bangsa ini belum signifikan. tampaknya kita juga harus sadar bahwa elite politik yang duduk dalam jajaran pemerintahan masih dihiasi wajah-wajah lama yang notabene masih antek Soeharto.Habibie yang menjabat menggantikan roda pemerintahan pun tidak memberikan banyak perubahan. Stigma yang terbentuk dikalangan masyarakat pada waktu itu adalah karena Habibie merupakan anak emas Soeharto, jadi wajar kalau sistem pemerintahan yang dibangun masih tidak jauh berbeda dengan "Bapaknya".Abdurahman Wahid dan Megawati yang kemudian menggantikan roda pemerintahan setelah Habibie ternyata membawa sedikit angin segar laju pertumbuhan ekonomi mulai membaik sedikit demi sedikit. pada tahun 2004 di era pemerintahan SBY laju pertumbuhan ekonomi mulai membaik mencapai 5%/tahun. Tentu saja itu masih jauh dari harapan melihat Sumber Daya Alam (SDA) sangat potensial untuk dikembangkan. Kondisi yang paling sulit untuk membangun bangsa ini adalah budaya KKN yang masih kuat bercokol di negeri ini. SBY dengan berbagai kebijakan yang dibangun untuk menangani KKN ternyata belum signifikan meskipun beberapa lembaga anti korupsi telah didirikan,seperti International Coruption Watch (ICW), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ada hal menarik yang kita amati pada saat hari perayaan sumpah pemuda kemarin,dimana presiden SBY dan menteri negara pemuda dan olahraga Adiyaksa Dault merayakan peringatan besar ini secara terpisah. Entah ada kepentingan apa dibalik semua itu, tampaknya ada hal yang harus dipertanyakan dalam seremonial penting itu.

Dimana Kiprah Pemuda saat ini
Kalau kita melihat kejadian aneh, ketika presiden dan menterinya merayakan hari sumpah pemuda secara terpisah, tampaknya ini merupakan sebuah simbol ketidakpedulian presiden terhadap eksistensi generasi muda.Padahal kita mengetahui teamwork dalam sebuah kabinet sangat diperlukan. Kebijkan SBY yang tidak dengan segera mengaalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20%, membuat bangsa ini semakin sulit bersaing dengan negara lain. Sebut saja Cina yang diprediksi pada tahun 2015 akan menjadi penguasa software dan India yang akan menjadi penguasa Hardware.Mengapa dua negara tersebut bisa begitu hebat berkembang. karena pengelolaan SDM generasi mudanya yang begitu baik. Berbeda dengan Negara kita, yang selalu tertinggal. Padahal banyak bakat-bakat luar biasa dibidang science yang memenangkan beberapa lomba bertaraf internasional.Salah satunya olimpiade matematika dan Fisika, dimana bangsa kita dipandang "berbahaya" oleh mereka.Tapi, hal ini hanya sebatas ceremonial semata saja. karena tidak ada followup dari pemerintahan kita. kita hanya jago individual, tapi kalau kelompok kita masih jauh, tidak ubahnya team sepak bola kita yang tidak pernah berprestasi dalam beberapa tahun terakhir.
Peran optimal pemerintahan lewat anggaran pendidikan 20% dirasakan sebagai sebuah solusi kongkrit untuk membangun bangsa ini dengan sumber daya manusia yang capable dalam berbagai hal tentunya.Demi kemajuan bangsa indonesia. Amien....!




Jumat, 02 November 2007

Face Off for activist


Aktivis menurut definisi kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan di organisasinya. Kondisi riil yang terjadi saat ini di Universitas Muhammadiyah Surakarta sulitnya mencari regenerasi yang bisa menjadi amunisi baru organisasi. Jangan pernah bingung ataupun heran, kalau kita melihat aktivis yang ada disebuah organisasi masih dihiasi oleh muka-muka lama.

Segudang persepsi dan penafsiran pun muncul menyikapi permasalahan ini. Pertama, apakah tidak ada kader yang kompeten untuk meneruskan roda kepengurusan baru, apabila memang mereka menstandarkan kualifikasi yang ketat untuk menjadi aktivis di organisasinya.

Untuk alasan pertama, sepertinya tidak ada organisasi yang menerapkan sistem semacam itu. Mengingat kondisi yang ada saat ini, jika di ibaratkan sepertinya “organisasi yang sibuk mencari anggota, bukan anggota yang sibuk mencari organisasi”. Mahasiswa memandang bahwa organisasi itu tidaklah penting untuk mereka, cukup dengan rajin kuliah saja sudah cukup dan siap untuk menghadapi dunia kerja nantinya. Tapi tunggu dulu, itu adalah persepsi yang keliru, kuliah hanya untuk mengasah otak saja dalam hal akademis, tapi juga diperlukan keahlian tambahan yang bisa mereka dapatkan diorganisasi.

Yang kedua memang keengganan mahasiswa itu sendiri untuk terjun langsung kedalam dunia keorganisasian. Untuk alasan kedua, dengan berbagai macam background organisasi yang ada, sebenarnya mahasiswa dapat memilih apa organisasi yang mereka suka. Mulai dari organisasi yang bergerak dibidang pecinta alam, jurnalistik, bela diri, kesenian, sampai organisasi yang bersifat religiuspun ada dikampus ini.

Kedua alasan tersebutlah yang menjadi faktor penghambat proses regenerasi dalam sebuah organisasi. atau mungkin alasan lainnya yang masih ada dibenak kita masing-masing yang sulit untuk dijabarkan.

Padahal, semua organisasi yang di sediakan oleh pihak Universitas adalah untuk membantu mahasiswa dalam hal pengembangan bakat dan minatnya. Miliaran rupiah anggaran yang dikeluarkan oleh pihak Universitas yang notabene diambil dari uang SPP mahasiswa dan sumber lainnya adalah sebagai wujud keseriusan pihak Universitas. Tapi lagi-lagi mereka hanya ingin menjadi mahasiswa yang hedonis, cukup dengan slogan “kupu-kudo” (kuliah pulang-kuliah dolan).

Sepenggal prolog diatas adalah persfektif penulis dalam menyikapi kondisi riil yang terjadi saat ini. sebenarnya harus ada wacana untuk segera mengakhiri paradigma ini. semua stakeholders yang terkait dalam masalah ini seharusnya segera mencari solusi yang kongkret, sehingga proses menuju dinamisasi kegiatan organisasi kampus yang dihiasi dengan wajah-wajah baru akan segera terwujud.