"ini budi, ini bapak budi, dan ini ibu budi"...ketika mendengar kata tersebut, memori di otak akan menuntun kita saat mulai belajar membaca di Sekolah Dasar. Saat ini, untuk bisa belajar membaca seperti itu,t
idak harus menunggu umur kita genap 6 tahun sebagai syarat masuk Sekolah Dasar. sebelum umur kita genap 6 tahun pun kita sudah bisa mempelajarinya lewar Taman Kanak-Kanak (TK). Sepertinya, sudah tidak ada alasan lagi ada data yang menyebutkan bahwa bangsa indonesia dikategorikan kedalam bangsa yang masih buta huruf. Menurut hasil penelitian Programme For International Student Assesment (PISA)2003, dari 40 negara , Indonesia berada pada tingkat terbawah dalam kemampuan membacanya. Kemampuan anak Indonesia usia 14-15 baru pada tingkat satu.Artinya hanya mampu memahami satau atau beberapa informasi pada teks yang tersedia.(republika, 09/11/2007Membaca data ini, membuat hati menjadi miris dan prihatin. Ditengah berdiri kokohnya gedung-gedung pencakar langit, jumlah kendaraan bermotor yang semakin tak terkendali, pabrik berskala besar yang saling memandang angkuh satu sama lain, ternyata masih kita temukan data seperti ini. Lantas dimana peran pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini.
Kepala Subdirektorat Kesetaraan Pendidikan Menengah Depdiknas Elih Sudiapermana mengatakan, saat ini masih ada sekitar 15,6 juta dari total sekitar 217 juta penduduk Indonesia yang masih buta huruf. "Dari 15,6 juta itu, sekitar 70 persennya adalah perempuan," ujar Elih (Kompas, 25/8/2007. Dari sekitar 15,3 juta penduduk buta huruf di Indonesia, sekitar 12 persennya terdapat di Jawa Barat. Provinsi ini berada di peringkat ketiga terbanyak setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dari data tambahan ini bisa dilihat bahwa provinsi-provinsi besar seperti Jawa Barat, Jawa Timur, jawa tengah dan Jawa Timur ternyata masih acuh tak acuh tentang pentingnya dunia pendidikan bagi masa depan bangsa. Bisa kita lihat Jawa Barat dengan Bandungnya, Jawa Tengah dengan Semarangnya dan Jawa Timur dengan Surabayanya adalah kota-kota besar dimana bebagai macam infrastruktur telah dibangun seperti fasilitas publik, jalan raya, rumah sakit bahkan gedung-gedung sekolah masuk didalamnya meskipun proporsinya masih keci. Sebagai contoh bisa dilihat Jawa Tenga yang menargetkan pendapatan asli daerah sebesar Rp. 5,014 triliun pada APBD 2008. Rp 2,2 triliunnya digunakan untuk belanja daerah dengan alokasi pendanaan terbesar masih disektor infrastruktur. Lantas kita menjadi bertanya-tanya,apakah pemerintah tidak pernah membaca koran atau pun mendengarkan berita yang menyebutkan provinsinya dikategorikan sebagai salah satu provinsi dengan tingkat buta huruf yang tinggi.Atau memang mereka tidak perduli. Dengan semakin baiknya infrastruktur, masyarakat akan menilai kalau kinerjanya sudah dikatakan berhasil dan lagi-lagi ini motif oknum pejabat kita yang lebih suka memamerkan keberhasilan fisik saja.
Solusi Kongkret
Harga mati anggaran sebesar 20% untuk pendidikan yang diambil dari dana APBN & APBD adalah jawabannya. Selama ini bangsa kita selalu terlena dengan kemegahan. Infrastruktur bagus, jalan tol disana-sini, alat-alat perang canggih meskipun harus barter dengan beras atau kelapa sawit.Tapi mereka lupa akan satu hal yang lebih penting dari semua itu yakni pendidikan. Tampaknya bangsa kita memang bangsa yang ingin "menor" secara visual saja.Hal ini bisa kita lihat dengan dalih agar banyak investor asing masuk maka kita harus banyak melakukan perubahan.Padahal semua itu bullshit. Oknum pejabat kita yang sudah dicap sebagai pengkhianat amanat bangsa dengan berbagai tindakan amoril mereka seperti KKN dan sebagainya sudah cukup membuat bangsa kita hancur.Coba kembali berpikir realistis. kalau kita hanya menjadi sapi perah bangsa asing, tanpa bisa menjadi pengusaha sapi lantas mau dibawa kemana bangsa kita ini. Bergerak memajukan bangsa dengan dunia pendidikan akan lebih arif daripada kita hanya mementingkan infrastruktur semata. "Rajin menabung pangkal pandai, serius mengelola dunia pendidikan bangsa akan kembali maju dan bisa menguasai dunia"....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar