Aktivis menurut definisi kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan di organisasinya. Kondisi riil yang terjadi saat ini di Universitas Muhammadiyah
Segudang persepsi dan penafsiran pun muncul menyikapi permasalahan ini. Pertama, apakah tidak ada kader yang kompeten untuk meneruskan roda kepengurusan baru, apabila memang mereka menstandarkan kualifikasi yang ketat untuk menjadi aktivis di organisasinya.
Untuk alasan pertama, sepertinya tidak ada organisasi yang menerapkan sistem semacam itu. Mengingat kondisi yang ada saat ini, jika di ibaratkan sepertinya “organisasi yang sibuk mencari anggota, bukan anggota yang sibuk mencari organisasi”. Mahasiswa memandang bahwa organisasi itu tidaklah penting untuk mereka, cukup dengan rajin kuliah saja sudah cukup dan siap untuk menghadapi dunia kerja nantinya. Tapi tunggu dulu, itu adalah persepsi yang keliru, kuliah hanya untuk mengasah otak saja dalam hal akademis, tapi juga diperlukan keahlian tambahan yang bisa mereka dapatkan diorganisasi.
Yang kedua memang keengganan mahasiswa itu sendiri untuk terjun langsung kedalam dunia keorganisasian. Untuk alasan kedua, dengan berbagai macam background organisasi yang ada, sebenarnya mahasiswa dapat memilih apa organisasi yang mereka suka. Mulai dari organisasi yang bergerak dibidang pecinta alam, jurnalistik, bela diri, kesenian, sampai organisasi yang bersifat religiuspun ada dikampus ini.
Kedua alasan tersebutlah yang menjadi faktor penghambat proses regenerasi dalam sebuah organisasi. atau mungkin alasan lainnya yang masih ada dibenak kita masing-masing yang sulit untuk dijabarkan.
Padahal, semua organisasi yang di sediakan oleh pihak Universitas adalah untuk membantu mahasiswa dalam hal pengembangan bakat dan minatnya. Miliaran rupiah anggaran yang dikeluarkan oleh pihak Universitas yang notabene diambil dari uang SPP mahasiswa dan sumber lainnya adalah sebagai wujud keseriusan pihak Universitas. Tapi lagi-lagi mereka hanya ingin menjadi mahasiswa yang hedonis, cukup dengan slogan “kupu-kudo” (kuliah pulang-kuliah dolan).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar