...si Ardi tuh sekarang keliatan gaul banget...dengan potongan barunya ga ya spike, ditambah pakean yang model distro abis. wah ga nyangka gw si Ardi bisa seganteng itu." Itulah sekilas skenario yang disampaikan oleh anak SMP yang sedang bermain sinetron. Tidak bisa dipungkiri lagi kondisi media saat ini sudah jauh melenceng dari esensi media yang sebenarnya. Fungsi-fungsi media seperti advokasi, edukasi, informasi dimodifikasi ekstrim menjadi style kapitalisme. Kondisi ril yang terjadi saat ini, Media bukanlah sebagai wadah membangun bangsa kearah yang lebih baik, tapi Media sudah menjadi komoditas kapitalis yang tidak bisa berubah karena ada kepentingan uang disana. Mungkin kita sudah jenuh melihat adegan-adegan yang ada disinetron yang ada, hampir semuanya membawa sebuah pesan-pesan destruktif bagi pemirsanya. Kalau segmentasi yang mereka bidik sesuai dengan karakter sinetron yang mereka buat, mungkin tidak akan menjadi masalah. Tapi, kalau segmentasi yang mereka bidik berdistorsi kelain arah, inilah yang berbahaya. Lantas bagaimana kita melihat eksistensi media saat ini.Overlapping Media
Media yang kebablasan sekarang ini, nyaman-nyaman saja menjalankan aksi mereka. Dengan menutup mata dan telinga mereka sudah cukup untuk mengcover gempuran para aktivis yang menyerukan untuk segera diadakan reformasi media. Tentu saja tidak semudah membalikan telapak tangan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Pemerintahan yang mandul, oknum-oknum kapitalis yang semakin kuat bertengger dengan pengaruhnya, membuat persoalan ini semakin sulit untuk diatasi dengan kata lain kita hanya menunggu negara ini hancur oleh senjatanya sendiri ya, itulah media. Kalau pemerintah bisa mengcover media berjalan sesuai esensinya, media bisa dijadikan sebagai senjata ampuh tentunya baik untuk memperkuat rasa nasionalisme, proses pembelajaran politik, dan lain sebagainya.
Masih segar di ingatan kita beberapa kasus yang terjadi dibeberapa media. Kasus smack down di LATIVI yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Persoalan ini terjadi karena kesalahan pihak lativi yang terlalu dini menyiarkan acara ini. sehingga anak-anak yang masih labil pemikirannya ikut-ikutan mempraktekan adegan ini. Walhasil beberapa nyawa melayang, cacat fisik sampai ribut antara orang tua karena masalah ini. Apakah pemerintah dengan lembaga sensor indonesia (LSI) tidak bisa berbuat banyak untuk menyikapi permasalahan ini. selain adegan smack down, ada point penting yang harus menjadi perhatian kita. Sinetron yang tidak mendidik adalah bom waktu bagi generasi muda saat ini. bayangkan saja ada dalam sebuah cuplikan sintron anak SD yang belagak sok gaul, menenteng HP ngomongnya lU, Gw
. kerjaannya ngegosip bahkan sampai mempraktekan adegan pacaran diantara mereka. Sungguh miris ditengah kondisi bangsa semakin terpuruk, generasi muda kita malah disuguhi tontonan yang tidak sepantasnya mereka konsumsi.Maksimalkan peran orangtua
Kalau pihak media dan pemerintah tidak perduli menyikapi per
Tidak ada komentar:
Posting Komentar