
Permasalahan bangsa indonesia yang tidak pernah bisa bangkit dari keterpurukannya selama ini, ternyata disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya budaya korupsi yang masih menggila dinegeri ini,pemberdayaan sumber daya alam yang belum maksimal, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang lebih menguntungkan pihak pemodal asing lewat berbagai kebijakan PMA dan lain sebagainya.
Kalau kita cermati betul,apa yang bisa kita jual dari bangsa ini. Secara umum orang akan berbicara bahwa Indonesia merupkan negara agraris, ditambah dengan kekayaan laut serta dari sektor pertambangan yang begitu besar.Begitu banyaknya sumber daya alam yang kita miliki, sudah sepantasnya negara kita berada sejajar denga Amerika Serikat ataupun Jepang, kalau kekayaan alam yang kita miliki bisa dikelola dengan baik.
Setelah 62 tahun meredeka, ternyata bangsa ini hanya "berjalan santai" tidak ada niatan untuk bisa berlari cepat menyusul bangsa-bangsa lain yang semakin maju.Masih segar di Ingatan kita, ketika negara-negara tetangga kita seperti Malaysia, Thailand ataupun singapura kondisi perekonomiannya lebih buruk dari negara kita. Dengan berbagai kebijkan yang dibangun dinegara-negara tetangga kita, akhirnya mereka bisa bangkit berlari meninggalkan Indonesia dibelakang.
Lantas kita akan bertanya dimana letak kesalahan bangsa kita? banyak argumentasi yang menyebutkan kesalahan dalam sistem pemerintahanlah yang menyebabkan kita masih berada dalam kondisi seperti ini, Budaya KKN yang masih sulit untuk diberangus dari negeri ini meskipun tampuk kepemimpinan sudah berganti sebanyak lima kali tampaknya menjadi faktor utama.Silahkan anda berfikir sendiri kenapa disemua era kepemimpinan presiden kita tidak ada yang bisa menuntaskan masalah pelik ini.
Andalkan TKI

Pengamat politik ataupun ekonom mungkin sudah jenuh menganalisa nasib bangsa ini, analisis mereka hanya menjadi sebuah wacana yang hilang ditiup angin. Sulitnya membongkar oknum-oknum pemerintahan yang tidak bertanggung jawab berada dibalik keterpurukan bangsa ini membuat negara kita semakin bingung,lantas apa yang akan kita lakukan. Pernahkan anda mendengar kata Tenaga Kerja Indonesia (TKI), kalau pada tanggal 10 november kita akan memperingati hari pahlawan,tampaknya sudah waktunya tanggal 10 november pula kita akan memperingati hari TKI.Eksistensi TKI tidak bisa dianggap sebelah mata,meskipun TKI notabene adalah tenaga kerja informal tapi dengan pemasukan devisa yang diperoleh bisa melampaui pemasukan devisa dari Migas dan hasil laut. Mendengar data fantastis ini sepertinya sudah saatnya bangsa ini merumuskan apa yang menjadi prioritas pemasukan devisa negara. Kalau kita melihat negara-negara berkembang seperti Jepang yang maju dengan Teknologinya dibidang otomotif, ataupun China yang maju dengan penguasaan teknologi hardwarenya.lantas bagaimana jika indonesia bisa maju dengan peranan TKI nya.
Konsep TKI menjadi pemasok utama Devisa Negara sebenarnya harus digalakan. Harus kita sadari SDM bangsa ini tidak bisa disejajarkan dengan SDM Jepang dan China dalam penguasaan Teknologi.Oleh karena itu sudah saatnya kita berpikir realistis apa yang bisa kita jual dari bangsa ini. "Kalau sudah banyak yang jualan gorengan, kita jangan jualan gorengan juga, kalau kita tidak tahu cara berbisnis gorenganyang baik, just be your self" analogi tersebut seharusnya bisa kita adopsi. Jikalau bangsa lain sibuk dengan pengembangan teknloginya, sebaiknya kita juga sibuk dengan pengembangan TKI. Karena negara-negara di Dunia membutukan banyak tenaga kerja informal untuk mengembangkan perusahaan mereka.Dengan jumlah penduduk indonesia yang kurang lebih 210 juta, jika 10% atau sekitar 21 juta orang dialokasikan sebagai TKI yang tersebar diseluruh dunia. bisa dibanyangka berapa devisa yang bisa negara dapat. Jadi bangsa yang realistis akan lebih baik apabila ingin menjadi bangsa yang ambisius tapi tidak mempunyai kemampuan.
Optimalkan TKI, APBN meningkat ekonomi membaik, maka setelah itu apapun yang bangsa kita inginkan baik dalam hal pengembangan teknologi atau apapun akan bisa tercapai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar